Bahasa Indonesia, Contoh karangan antara Ragam Standar dan Ragam Nonstandar

Posted: October 27, 2010 in Bahasa Indonesia

Ragam Standar dan Nonstandar

Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap.
Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar dan non standar adalah:
 Penggunaan kata sapa an dan kata ganti,
 Penggunaan kata tertentu,
 Penggunakan kata sambung (konjungsi), dan
 Penggunaan fungsi yang lengkap.

 Contoh Karangan Ragam Standar

Disebuah desa terpencil yang bernama Desa Parang tinggalah seorang kakek yang sedang sakit keras. Kini Kakek itu hidup seorang diri. Kakek itu bernama Sumartono. Isteri kakek Sumartono telah meninggal 5 tahun yang lalu. Mata pencaharian kakek Sumartono adalah nelayan. Dengan kondisi kakek Sumartono yang sudah tidak memungkinkan untuk bekerja lagi, kakek Sumartono hanya mengharapkan belaskasih dari para tetangganya.
Hasil dari mata pencaharian kakek Sumartono segera Ia bawa ke pasar untuk di jual. Dagangannya selalu habis terjual karena Ia suka memberikan bonus kepada pembelinya. Suatu hari kakek Sumartono tidak dapat berjualan dipasar karena perahunya yang bocor. Oleh karena itu Ia tidak dapat berlayar dan harus memper baikinya.
Kakek Sumartono adalah orang yang baik, ramah dan suka menolong. Semasa Ia sehat, kakek Sumartono selalu membantu orang- orang sekitarnya yang membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu Ia disukai banyak penduduk didesa tersebut.
Kakek Sumartono mempunyai 2 anak. Keduanya sudah menikah. Tetapi kedua anak kakek Sumartono tidak seorang pun yang ingin membalas jasa kakek Sumartono yang telah membesarkan mereka. Kedua anak kakek Sumartono pergi meninggalkannya yang hingga kini tak tahu entah dimana.

 Contoh Karangan Ragam Non standar

BEDA TIPIS
Ini adalah cerita 10 tahun yang lau. Pada waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Aku bersama tiga teman rumahku bersekolah pada satu sekolah yang sama, karena itu aku dan ketiga teman ku selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Walaupun kami satu sekolah tetapi diantara kami tidak ada yang sekelas. Kami semua berbeda kelas. Hingga akhirnya kami menetapkan sebuah tempat untuk kami dapat saling menunggu satu sama lain ketika pulang sekolah.
Pada suatu hari, ketika kami sedang berjalan bersama menuju pangkalan angkutan umum, Anggi salah satu temanku, digodi oleh seorang laki-laki yang bersekolah di sekolah yang sama dengan kami. Ketika itu kami sudah duduk dikelas 3. Setiap hari Anggi di buat kesal olehnya. Laki-laki itu bernama Nino. Semua gerak gerik yang Anggi lakukan, diketahui Nino. Hingga akhirnya Anggi merasa risih dan merasakan rasa benci yang mendalam pada Nino. Sedalam itu pula Nino tergila-gila pada Anggi, tapi Anggi yang terlanjur benci pada Nino membuat Anggi pun enggan untuk melihat Nino. Rasanya tak mungkin Nino memiliki Anggi. Tetapi Nino tak pantang menyerah untuk mendapatkan hati Anggi.
Julukan – julukan yang dilontarkan Anggi kepada Nino seolah – olah tak ada ruang dihati Anggi untuk Nino. Sampai pada akhirnya timbul beberapa pertanyaan besar yang ingin aku dan kedua temanku tanyakan pada Anggi. “Kenapa dia sampe segitu bencinya sama Nino??” . Pada waktu yang kurasa tepat ku lontarkan pertanyaan yang sampai pada saat itu membuat kita bertiga penasaran.
“Kenapa sih segitunya sama Nino ??”, Tanya ku.
“Gw benci banget sama dia Ri”, seraya Anggi berkata.
“Tapi Nino suka sama loe…”, kata ku.
“Tapi gw ‘NGGA’ !!!” .(Sambil mengangkat tangannya mempraktekan tanda kutip dua).

“Amit – amit gw sampe suka sama dia Ri, iiiccchh… jangan sampe dech dan ngga akan”. Kata Anggi.
Kasihan aku melihat Nino saat itu. Ku sarankan padanya untuk berhenti mengejar -ngejar Anggi. Kurasa Nino benar-benar mempertimbangakan saranku. Beberapa hari setelah ku sarankan seperti itu Nino bertingkah sewajarnya. Anggi merasakan kehilangan perhatian yang biasa Nino berikan kepadanya. Sampai pada suatu hari, tanpa Anggi sadar, Ia tak rela melihat Nino jalan bersebelahan dengan seorang wanita lain. Kurasa ada sinyal positif dari Anggi kini. Ku ceritakan pada Nino kejadian pulang sekolah waktu itu. Nino tersentak kaget dan kegirangan. Perlahan Nino mulai mendekati Anggi kembali dengan tak tik datang dan pergi.

Seiring berjalannya waktu, Anggi merasakan sesuatu yang berbeda. Ia tak lagi benci pada Nino dan merasakan kehilangan Nino. Kesabaran dan kegigihan Nino pada akhirnya membuahkan hasil. Anggi pun luluh akan perjuangan Nino untuk mendapatkan hatinya. “Orang Gila”, “si jelek”, “si bodoh”,” si norak“ yang dulu selalu terucap dari bibir Anggi ketika Nino mengejar-ngejarnya kini tak ada lagi. Orang gila itu pun kini menjadi kekasihnya.
Kini usia kami telah menginjak 22 tahun, hampir 8 tahun sudah mereka berhubungan . Dan sampai pada saat ini hubungan mereka masih terjalin. Yaahhh… walopun banyak rintangan dan godaan, jarak dan waktu ( long distance relationship) yang menghadang mereka berdua berhasil melewatinya. Anggi baru saja menyelesaikan kuliahnya dan telah menjadi Sarjana. Sedangkan Nino baru menyelesaikan pendidikan D3 dan melanjutkan S1 untuk mendapatkan gelar yang sama dengan Anggi.
Dari peristiwa Anggi dan Nino ini aku mendapatkan pelajaran bahwa kebencian tak selamanya menjadi musuh. Antara benci dan cinta pun hanya beda tipis. Dan akankah mereka sampai ke pelaminan ???.
Tunggu crita selanjutnya yaahh… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s